Konon, pekerjaan yang saat ini paling mudah dilakoni di Jakarta adalah menjadi tukang ojek. Hampir di setiap sudut kota ada pangkalan ojek. Dari pintu masuk komplek perumahan, apartemen, sampai menyebar ke jalan-jalan utama Jakarta. Jumlahnya bisa dibilang hampir tidak terhitung.

Kemudian mengapa menjadi tukang ojek disebut sebagai pekerjaan yang paling mudah didapat dan dilakoni? Ternyata profesi ini tidak membutuhkan birokrasi yang rumit sama sekali. Cukup dengan kemampuan mengendarai sepeda motor, bahkan tanpa punya motornya sekalipun bisa menjadi seorang tukang ojek. SIM tak perlu, apalagi kemampuan navigasi yang cukup (jangankan ojek, taksi pun seperti itu). Soal kemampuan navigasi ini juga bukan hal yang penting karena nyasar di Jakarta itu sebagian dari rutinitas kebanyakan dari kita.

ojek.jpg

Saya punya pengalaman yang cukup mewakili pendapat diatas. Suatu hari, saya menggunakan jasa ojek ini. Berangkat dari stasiun Gambir menuju daerah Gondangdia Jakarta Pusat. Jaraknya kira-kira hanya 5 kilometer saja. Ketika naik, kawan tukang ojek itu secara guyon bilang kalau penulis harus hati-hati karena si tukang ojek yang saya naiki baru saja belajar mengendarai sepeda motor. Tentu saya anggap angin lalu. Lelucon standar para tukang ojek.

Diperjalanan, tukang ojek ini bertanya;

“Gondangdia itu sebelah mana ya mas?”

“Wah, masa ga tau sih? Emang situ tinggal dimana?”

“Anu, saya baru aja sampai di Jakarta seminggu yang lalu”.

“Sebelumnya emang tinggal dimana?”

“Surabaya”

“Belum pernah tinggal atau ke Jakarta sebelumnya?”

“Belum. Saya juga baru belajar naik motor 3 hari ini kok”.

Mati aku.

Tidak ada catatan yang pasti sejak kapan ojek benar-benar eksis di Jakarta. Setidaknya Benyamin S. ditahun 80an sudah memerankan tukang ojek dalam filmnya. Tapi jelas sejak krisis ekonomi terjadi, ojek menjadi pekerjaan alternatif terfavorit. Alih profesi pun terjadi secara massif. Tidak hanya para pekerja yang terkena PHK, tukang bangunan pun turut serta. Bagaimana tidak, lah tidak ada yang mau dibangun pada saat itu. Hingga kini pun menjadi tukang ojek masih menjadi pilihan utama bagi banyak orang.

Bagaimanapun, ojek adalah moda transportasi yang paling adaptif atas situasi dan kondisi Jakarta, terlebih saat ini. Kemampuannya bermanuver dikemacetan bahkan berada diatas level yang sebuah Bajaj yang dulu sempat menjadi raja jalanan. Permintaan pasar atas moda transportasi ojek pun tidak pernah habis, bahkan bertambah. Lihat saja dijalan-jalan utama Jakarta seperti Sudirman. Di pagi hari, pemandangan tukang ojek membawa orang-orang berjas dan blazer bukan lagi pemandangan yang aneh. Dulu mungkin ada sedikit rasa canggung untuk menggunakan jasa ojek, tapi hari ini, tampaknya ojek menjadi primadona bagi banyak warga Jakarta.

Pernah ada wacana untuk melegalkan ojek di Jakarta. Artinya, ojek tidak akan lagi berplat hitam. Tapi lambat laun wacana itu memudar. Tampaknya Pemda Jakarta berada dipersimpangan yang cukup rumit. Ojek adalah satu bukti dan jawaban atas gagalnya pemerintah kota Jakarta dalam mengelola transportasi publik. Bila dilegalkan, itu hanya membuktikan bahwa pemerintah kota memang jelas gagal dalam menyediakan dan mengelola transportasi publik.

Tapi siapa yang bisa menyangkal besarnya kontribusi ojek ini dalam mengatasi persoalan terlambat karena macet? Lihatlah Jakarta yang semakin kacau balau ini. Ditengah-tengah riuh kemacetan, tukang ojek hadir untuk mengatakan; Gue Bilang Juge Ape!

Advertisement