Berapa jumlah pendatang di Jakarta? Tidak ada yang pernah benar-benar tahu. Kalau pun ada angka statistik yang dikeluarkan pemerintah provinsi DKI, patut diragukan kesahihannya. Bagaimana tidak? Bikin KTP itu urusan gampang. Tidak hanya itu, laju urbanisasi di Jakarta tampaknya masih menjadi cerita utama tiap habis lebaran.
Arus mudik balik diduga selalu berjumlah beberapa kali lipat dari sebelumnya. Mengadu nasib di Jakarta masih menjadi mimpi utama kebanyakan penduduk di Indonesia. Sesuatu yang tampaknya mustahil untuk dihindari. Sentralisasi arus ekonomi masih terjadi. Otonomi dareah tampaknya masih jadi proyek “bagi-bagi hasil” penguasa lokal, bukan pembangunan apalagi penguatan ekonomi daerah.
Jadi, cerita soal pendatang haram ke Jakarta masih menjadi nyanyian usang yang selalu dikicaukan oleh para pejabat Pemda DKI. Operasi yustisi digelar untuk menghalau para pendatang haram dengan cara yang cukup barbar. Sikat sana-sini tanpa peduli dengan konteks persoalan sesungguhnya. Jangan-jangan kita juga perlu mengoperasi yustisikan para anggota satpol PP, karena bisa jadi mereka juga termasuk pendatang haram. Toh mantan gubernur Jakarta pun bukan “orang aseli” Jakarta.
Soal haram tidak haramnya pendatang pun harus kita perdebatkan karena amat dangkal sekali bila kita segera mengadili orang-orang yang datang ke Jakarta ini untuk mengadu nasibnya. Pembangunan di Indonesia yang masih saja belum merata ini, ditambah lagi dengan kerja pemerintah yang kacau-balau, tekanan ekonomi, desa yang terus tertinggal, alasan apa yang bisa kita pakai untuk membenarkan klaim haram-halal ini?
Mimpi soal hidup sejahtera menjadi mimpi besar bersama yang notabene selalu menyakiti hati kita tiap saatnya. Jakarta menjadi sentral dari mimpi tersebut. Dan tampaknya mimpi itu saat ini telah menjelma menjadi mimpi buruk yang amat menakutkan. Celakanya, kita belum atau bahkan tidak bisa lari darinya.


Leave a comment
Comments feed for this article