Di Jakarta, hujan adalah pertanda buruk. Kamis sore 13 Maret 2008, hujan mengguyur kota Jakarta, seperti biasanya belakangan ini. Sore itu, saya dalam perjalanan menuju daerah Cilandak. Hujan mengguyur ketika saya tiba di terminal Blok M. Tidak ada firasat buruk yang menghampiri. Rupanya saya harus lebih mengasah insting.
Melangkah keluar terminal, banjir lokalan sudah menghadang. Terpaksa menggulung celana dan melepas sepatu. Dan tentu saja saya tidak sendirian. Orang lalu lalang sambil menenteng sepatu. Ada yang mukanya masam, ada pula yang senyam senyum. Pikirnya; ah, jadi ingat waktu di desa dulu.
Dalam hitungan detik, macet pun mulai menampakan diri. Saat itu, saya masih optimis kalau macet tersebut masih bisa diatasi. Setelah tengok kanan-kiri, ada tukang ojek yang siap menjadi korban untuk mengantarkan saya.
“Ke Cilandak bang.”
“30 rebu”, jawabnya tanpa basa-basi.
“Waduh, mahal amat?!.”
“Lah lu liat aja tuh jalanan. Macet.”
“Ah sedikit.”
“Gila aja lu, semua jalan mati!”
“15 deh”
Geleng-geleng.
“20?”
Geleng-geleng.
“25. dah ambil aja.”
“Ayo dah”.
Dan ternyata si tukang ojek itu benar 100%. Semua titik perempatan, pertigaan, perduatigaan, pertigaperempatan mati…ti…ti.. Tidak ada ruang yang tersisa untuk motor sekalipun bermanuver. Akhirnya cara-cara tidak etis pun dilakukan; naik ke trotoar, melawan arus jalan. Apapun yang bisa membuat kami (dan banyak orang dibelakang motor kami) bisa melewati segala rintangan macet.
Sepanjang jalan, pemandangan tumpukan kendaraan yang terjebak dikemacetan dengan wajah-wajah marah, frustasi, panik, dan pasrah terlintas dengan jelas. Gerimis masih menemani kami dalam perjalanan dan saya menyerahkan diri saya sepenuhnya kepada sang tukang ojek yang budiman untuk mengantarkan saya sampai ditujuan. Apapun dan bagaimanapun caranya.
Semua cara dicoba, termasuk melewati jalan-jalan tikus. Melewati perkampungan, jalan kecil diantara rumah, sampai keruas yang saya tidak yakin sebenarnya itu jalan untuk umum. Dalam hati saya akui kehebatan pengetahuan navigasi sang tukang ojek ini.
Sepanjang perjalanan pula saya berpikir betapa klise-nya situasi ini. Terlalu sering terjadi. Repitisi tanpa habis. Toh tetap saja saya tidak pernah siap menghadapinya. Mungkin mental saya terlalu cengeng untuk menghadapi kenyataan kota ini. Dan bagaimana perasaan jutaan manusia Jakarta yang terjebak didalam bis kota? Pengap, lembab, gerah. Ah, saya jadi lemas membayangkannya.
Tiba di daerah Cipete, saya teringat seorang teman yang tinggal di daerah tersebut. Saya sms dia;
klo niat plg kntr skrg,lbh baik dibatalkan sj.daerah blok m k cilandak & skitarnya macet total!
Message sent. Message delivered.
Tak lama;
1 messages, open
Mampus dah…


Leave a comment
Comments feed for this article